Pernahkah
Anda menyadari bahwa waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin merayakan
kelulusan SMU, eh kini sudah reuni dengan membawa keluarga baru. Hmm ... Saya
pun pernah merasakannya.
Kangen Itu Nyesek
Suatu
siang, saat bapak dan ibu saya tidak berada di rumah, saya asyik membaca dan
menikmati musik yang mengalun dari smartphone. Saya sengaja menggunakan
earphone agar saya bisa fokus dan tenang dalam membaca. Satu dua jam berlalu,
hingga saya yang saat itu berada di kamar ingin keluar untuk sekedar mengambil
minum. Saya melepas earphone, berjalan keluar kamar, lalu menuang air putih di
gelas.
Saat
pertama kali meneguk, saya benar-benar menikmati kesegaran airnya. Mungkin saya
terlalu haus, hihi ^^ Setelah dahaga saya terbayar, entah mengapa, tiba-tiba
ada perasaan dingin menyelinap di hati saya. Untuk beberapa saat saya
tercenung, lalu melihat sekitar. Sepi. Rumah ini begitu sepi.
Ini
bukan tentang cerita horor dengan tokoh kuntilanak dan sundel bolong. Atau
cerita thriller tentang seorang pembunuh yang beraksi dalam sunyi senyap. Ini
kisah tentang kenangan yang tiba saja hadir. Yeah, kenangan dengan para
penghuni rumah ini dalam formasi komplit.
Rumah ini tidak seramai yang dulu. Satu per
satu penghuninya pergi. Diawali dengan adik perempuan saya yang menikah 2 tahun
yang lalu. Kini dia pindah rumah mengikuti suaminya. Pun demikian dengan adik
lelaki saya. Sudah hampir setahun ini dia merantau, bekerja di ibu kota.
Ah,
sebenarnya situasi ini sudah kami prediksi. Meski kami hanya tiga bersaudara,
tapi keramaian kami luar biasa. Tidak jarang bapak menegur kami karena suara
gaduh kami yang memenuhi dunia seisinya. (Rada lebai sih bahasanya, hehe
(^_^,,)) Seperti kebanyakan saudara, kami pun sering bercanda, menertawakan
kelakuan konyol kami, bahkan saling membully (namun tetap dalam hal bercanda, ya). Ada
tawa, pertengkaran, bahkan air mata. Yeah, manusiawi-lah ya. Sedekat apapun
saudara, semua kondisi itu pasti ada.
Setiap
pagi rumah ini selalu huru-hara. Ramai dengan kehebohan kami mempersiapkan
aktivitas pagi (Meski sampai sekarang setiap pagi masih tetap heboh, sih. Tapi
rasanya beda, hiks (T_T)). Lalu, dalam sekejab, keriuhan itu hilang berbarengan
dengan keberangkatan kami satu per satu ke tempat kerja maupun kampus. Saat
petang, satu per satu kami pulang. Hingga malam menjelang, sambil melepas
lelah, biasanya kami kruntelan di ruang tengah. Ada yang menikmati cemilan,
bercerita tentang keseruan harinya, atau sekedar curhat masalah. Ah, betapa
hangatnya kebersamaan kami.
Foto Kembali Menghadirkan Kenangan
Itu
Di
saat kangen begini, saya biasanya membuka smartphone. Semakin berkembangnya
media sosial ternyata tak selamanya memberikan dampak buruk. Yang baik juga ada
kok. Seperti instagram yang menjelma album pribadi penyimpan
foto kenangan.
Di
sana saya masih menyimpan beberapa foto kenangan kami bertiga. Beberapa
diantaranya saya up load di instagram dengan menandai adik-adik saya dengan
harapan mereka juga dapat mengenang kembali masa lalu kami. Di sisi lain, ini bisa menjadi salah satu Kisah Foto Instagramku. Sejenak saya
bernostalgia dengan foto-foto tersebut. Ini adalah foto-foto terakhir kali kami
pergi piknik bersama. Dan itu terjadi 3 tahun yang lalu. What?!
Yeah,
3 tahun lalu. Bayangkan! Dan semenjak itu kami tidak pernah piknik lagi. Huaaa
... Jadi sedih. Mendadak bertaburan hastag #KurangPiknik #ButuhPiknik #KapanPiknik
#PiknikLagi dan piknik piknik yang lain. Tapi Alhamdulillah-nya, meski kurang
piknik, saya masih diberi kewarasan sampai hari ini, hihi ^^
Ngomong-ngomong
soal piknik terakhir, saya ingat betul saat itu adalah bulan November 2013. Kami
merencanakan piknik tanpa butuh waktu lama. Tiba-tiba nyeletuk ide begitu saja.
Lalu semua anggota keluarga mengamini. Alhasil kami pergi sekeluarga bersama
dengan 1 ponakan yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Maklum di keluarga saya sudah tidak ada anak
kecil lagi. Kami semua sudah dewasa. Jadi kalau ada anak kecil yang mau gabung
bersama kami, wah senang sekali. Seperti punya adik lagi, hihi ^^
Destinasi
pertama kami adalah objek wisata Kaliurang yang berada di Jogjakarta. Kami
sampai di sini menjelang dhuhur. Sayangnya dalam perjalanan mendung telah
menggelayut. Hujan rintik mulai turun berbarengan dengan saat kami keluar dari
mobil. Jadinya kami bukan piknik, tapi numpang berteduh.
Sebenarnya
ini bukan pertama kalinya saya dan keluarga kemari. Saat masih kecil, ini
adalah destiniasi wisata yang kerap kami kunjungi. Tapi itu dulu. Seiring
dengan banyak tempat wisata lain yang mulai terekpose, kami pun mulai
menjelajah ke tempat lainnya. Karenanya, saat kembali ke Kaliurang ini, kami
bukan hanya berwisata tapi juga bernostalgia. Terutama bapak yang dengan lancar
bercerita tentang masa lalu, saat kami berwisata ke tempat ini di waktu kecil.
Gerimis
menjelma hujan. Kami berteduh di mulut replika hewan. Ih, ngeri, ya. Berasa uji
nyali gitu. Haha ... Tenang! Kan hanya patung. Tapi karena ukurannya yang besar
dan dalam posisi mulutnya sedang menganga lebar, sampai-sampai kami yang
berbanyak ini bisa berteduh di dalamnya, hehe (^_^)
Semakin
lama hujan semakin deras. Akhirnya kami putuskan meninggalkan Kaliurang. Satu
per satu kami dievakuasi. Maklum, hanya ada 1 payung yang ada di dalam mobil,
jadi gantian. Nah, anehnya hujan hanya terjadi di puncak Kaliurang. Karena saat
kami turun, cuaca cerah dan jalanan juga kering. Wah, sepertinya memang belum
rezeki, ya L L
Baiklah.
Meski situasinya kurang menguntungkan tapi kami pantang menyerah. Nanggungkan
jadinya, kalau piknik hanya setengah jalan. Apalagi batal hanya karena hujan. Akhirnya,
perjalanan kami berlanjut ke pantai Parangtritis. Lagi-lagi, ini seperti
nostalgia masa kecil. Lama sekali kami tak berkunjung ke mari. Sudah berapa
tahun, ya? Ah, entahlah. Saya lupa.
Pantai
Parangtritis memiliki garis pantai yang panjang. Belum sampai pintu masuk saja,
kami sudah dapat mendengar kerasnya deburan ombak. Di sepanjang jalan menuju
pantai, pasir putih bertebaran. Pasir tersebut berkilauan saat diterpa sinar
matahari. Konon katanya pasir di sepanjang jalan menuju Parangtritis ini
mengandung silika, bahan pembuat kaca. Hmm ...
Saat
itu suasana pantai sangat ramai. Maklum hari itu bertepatan dengan hari libur.
Jadi banyak orang menyempatkan diri untuk piknik. Termasuk kami, hehe ^^
Setelah menggelar tikar, tanpa dikomando, kami para anak langsung berlari ke
pantai, menyeburkan diri ke air. Tapi ponakan saya ogah-ogahan. Alhasil,
terjadilah konspirasi terselubung, hehe. Kami beramai-ramai mengangkatnya dan menceburkannya
ke air. Bukannya senang kegirangan, eh malah dia nangis. Huaa ... Gimana sih ni
anak. Apa gunanya coba ke pantai kalau nggak main air, haha (^_^!)
Menurut
saya sih, pasir di pantai ini beda. Saat saya berdiri di atasnya, lalu ombang
datang menerjang, semua terasa biasa saja. Namun saat airnya kembali menuju
laut, kaki saya seolah tertarik dan ikut hanyut. Apalagi saat ombak besar,
rasanya jadi ngeri-ngeri sedap. Tapi justru di situ keasyikannya. Butuh
keseimbangan yang baik saat berdiri, terutama saat tertarik ombak. Kalau tidak
maka akan terjatuh :D :D
Sebenarnya,
ini juga yang diwanti-wanti oleh ibu saya. Beberapa kali beliau berteriak
kepada kami untuk mundur saat ombak besar datang. Kami maklum. Ibu khawatir
terhadap kami meski kami sudah bukan anak kecil lagi. Tapi justru itulah bukti
bahwa ibu sayang kepada kami. Apalagi banyak kejadian orang hilang digulung
ombak di pantai ini. Etapi namanya juga anak. Semakin dilarang malah semakin maju, haha #AnakDurhaka
#DijewerIbu #JanganDicontoh.
Kami
menyudahi bermain air saat petang menjelang. Kami sempat menikmati indahnya
matahari tenggelam. Tapi itu hanya sesaat karena ombak mulai meninggi dan
ganas. Suara deburannya juga mulai menakutkan. Ini adalah petanda saatnya kami
pulang.
Yeah,
kami sangat senang hari itu. Selama beberapa hari kami terus bercerita tentang
piknik kemarin. Apalagi dengan banyaknya foto yang kami ambil. Tapi sayangnya
keceriaan itu hanya berlangsung beberapa bulan saja. Setelahnya, berurutan
drama kepergian dimulai.
Dimulai
dari keponakan saya yang mendadak pindah ke Tasikmalaya. Disusul dengan
kepindahan adik perempuan saya setelah menikah. Dia ikut suaminya ke Bekasi.
Begitu pula dengan adik lelaki saya yang bekerja di Jakarta.
Dan
beginilah akhirnya. Tinggallah saya sendiri di sini, bersama ibu dan bapak. Tak
ada lagi banyolan dan candaan kami yang riuh ramai. Ah, sepinyaaaa ... Tapi mau bagaimana lagi. Bukankah cerita kehidupan memang seperti ini. Ada yang
datang, ada yang pergi. Yang penting silaturahim tetap berjalan dengan baik.
Betul?! ^^
- Hana Aina -
Baca juga, ya ...
Foto memang bisa menguatkan cerita dan mengembalikan kenangan ya, Mak. Aku juga suka scrol2 IG sendiri liat2 foto2 lama dan suka amaze dengan kenangan2 di balik foto2 itu.
BalasHapusNostalgia, ya, Mak ^^
HapusMba Hana, dari foto memang bisa mengaduk aduk perasaan.
BalasHapusUti baru aja dpt foto jadul yang bikin uti mberbes mili.
Berasa kembali ke masa lalu, ya, Ti ^^
Hapusbetul mba foto memang bisa meninggalkan kenangan, kadang kalau lagi iseng sama kek mba Sari aku scroll ke bawah lalu fikran ini membayangkan kejadian seputar foto tsb.
BalasHapusgudluck mba
Terimakasih ^^
HapusFoto emang penting ya mb utk mengulik kenangan n buat cerita..
BalasHapusN foto2q di jackstar ilang,,memorinya ki rusak stelah sampe rmh
Waahh ... Sayang sekali :( :(
HapusBetul betul betul..
BalasHapusFoto2 krucilku yg msh pada bayi..rusak ditelan virus leptop .huwaaa..nagis guling2
Wadew ... Foto-foto lagi, Mbak ^^
HapusTerkadang suka senyam-senyum sendiri saat melihat koleksi foto ya, mbak. Langsung terekam semua memori didalamnya.
BalasHapusInstagramku isinya beragam, dari tempat wisata idaman, tempat paling berkesan dan bahkan jadi ajang lomba demi menggaet hadiah impian.
Wah bisa nih ikutan giveawaynya. Siapa tahu juri suka (*_*))
Sudah DL, Mbak ^^
HapusFoto memang penyimpan kenangan terbaik hehe
BalasHapuswww.extraodiary.com
Sip! ^^
HapusMba Hanaaa..aku juga jadi teringat masa kecil waktu ibu teriak "Ita! Arin! Pepi!" waktu kami berantem-beranteman.
BalasHapusMakanya bener ya kata Mas Duta Sheila on Tujuh itu, "bersenang-senanglah, karena hari ini yang 'kan kota rindukan di hari tua..."
Semoga Mba Hana segera bisa menemukan seseorang yang akan membantu meramaikan rumah lagi yaa..aamiin.. Hihihi..tetep doanya. :D
Aku kalau denger lagu itu kok mewek, ya :'(
HapusWkwk ... Aamiin ^^
iya foto memang dokumen penting ya mbak sebagai penyimpan kenang2an
BalasHapusSepakat, Mbak ^^
HapusFoto menjadi dokumen berharga kala kita lupa. Banyak cerita yang terkandung di sana. Kita bsia mengingat-ingat waktu lampau
BalasHapusSeperti mesin waktu ^^
Hapusfoto itu tak ternilai harganya ... bayangin susah susah traveling tiba tiba semua folder foto ilang ahhhhhh pasti mewek mbak
BalasHapusNggak cuman mewek. Guling-guling ^^
Hapusya begitulah, anak2 ku juga akhirnay semua merantau untuk kuliah dan bekerja, hanay foto2 yang kadang menemaniku kalau lagi kangen
BalasHapusWah, ternyata kita mengalami hal yang sama ya, Mbak ^^
HapusSama Mbak, kalau lg edisi kangen pada masa-masa yang sudah terlewati, saya juga suka buka-buka koleksi foto dan berasa "berada kembali" pada dimensi waktu tersebut.
BalasHapusOia, hujan di Yogya memang unik. Area yang hujan seringkali selang-seling. Jadi kadang merasa saltum saat sudah rapi pakai mantel anti hujan, eh...jarak gak ada 1 KM berikutnya terang benderang
Wkwk ... Saya sering kayak gitu di Solo. Tapi woles aja. Jas hujan tetap dipakai sampai rumah ^^
Hapusdari judulnya aja udah gimana gitu bacanya...... tapi jangan foto mantan yang disimpan ya, apalagi kalau mantannya udah nikah..... ^_^
BalasHapus(ranbio.com)
Hallo Mbak Hana, terimakasih ikut ga saya. Senang sekali baca artikelnya. Indahnya ada kisah pada setiap foto ya...
BalasHapusJd ingat kakak dan ortuku mbak..
BalasHapusIdem, semuanya sudah bubar.. Malah tinggal berdua, ibu-bpk saja di rumah. Makanya, klo pas ada waktu bisa ketemu semua.. (Saya 3 bersaudara juga).. Jadinya rame bnget..
aku malah kangen masa SMA mak, kangen Juna waktu kecil jugaaa... :(
BalasHapusiya, foto terkadang bisa jadi pengobat kenangan tapi kadang jadi pengingat yang bikin tuambah kangennn :( :)
Opo kesepian mbak? wkwkwk, masa lalu, ah memang begitu
BalasHapussama mbak, aku belum lama merasakan hal yang sama tiba2 kok sedih dan malah kepengen balik kampung hahaha
BalasHapus